Tangis pilu keluarga pasien yang memegang kartu kesehatan dari Tubuh Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) masih tetap saja terdengar. Mereka sedih sesudah kehilangan buah hatinya karena tidak dapat membayar rumah sakit dengan kontan.
Walau sebenarnya, keadaan sang anak waktu itu gawat serta begitu memerlukan pertolongan. Tetapi service mesti tertahan karna prosedur rumah sakit yang memberatkan keluarga pasien. Mengakibatkan, beberapa bayi mungil itu juga wafat dunia. bpjs ketenagakerjaan
Sebelumnya masalah bayi Debora, ada peristiwa sama yang menerpa bayi yang lain. Sebut saja Hari Kustanti. Wanita berumur 41 th. itu mesti berkeliling-keliling rumah sakit untuk menggerakkan persalinan. Karna memakai BPJS, ia juga tidak diterima oleh enam rumah sakit swasta dengan argumen ruangan perawatan penuh.
Pada akhirnya sesudah di terima satu diantara rumah sakit, Hari Kustanti juga melakukan operasi persalinan. Tetapi demikian, sang bayi pada akhirnya wafat dunia sebentar sesudah operasi caesar.
Tidak cuma itu, peristiwa yang lain juga dihadapi Mesiya Rahayu. Bayi wanita berusia 15 bulan itu wafat sesudah tidak diterima empat rumah sakit di Kota Tangerang. bpjs ketenagakerjaan
Lalu bagaimana cerita mereka? Tersebut uraiannya :
1. Reny Wahyuni
Hari mesti berkeliling-keliling rumah sakit di Kota Bekasi untuk menyelematkan nyawa istri serta calon anaknya. Tetapi usaha itu selesai duka. Sang anak wafat dunia sebentar terlahir lewat operasi caesar, Sabtu 10 Juni 2017.
Dia menjelaskan, cerita pilu bermula waktu istrinya, Reny Wahyuni memeriksakan kandungannya yang berumur delapan bulan. Saat itu keadaan Reny tidak stabil sampai memerlukan perlakuan spesial.
Karna jadi peserta BPJS Kesehatan, Hari lalu keluarkan kartu sakti itu. Tetapi, Rumah sakit menampiknya dengan argumen ruangan intensive care unit (ICU) penuh.
" Saya diminta mencari rumah sakit beda, " lirih Hari.
Memperoleh perlakukan sekian, Hari segera sigap. Dia bergegas mencari rumah sakit beda supaya nyawa sang istri serta anaknya bisa tertolong. Enam rumah sakit ia sambangi, tetapi bukanlah service yang diperoleh, Hari mesti menelan kekecewaan dengan argumen ruangan ICU penuh.
Pada akhirnya karena anjuran dari saudaranya, dia membawa istri terkasih ke rumah sakit di lokasi Jakarta Utara. Ditempat ini, tim medis segera terima serta mengatasi Reny secara cepat. Tetapi sistem persalinan Reny yang lewat operasi caesar mesti selesai duka. Sang bayi tercintanya wafat dunia sebentar sesudah operasi dilakukuan.
Hari juga termenung serta tidak mengerti, begitu peliknya jalur akses kesehatan di Kota Bekasi. Walau sebenarnya waktu itu keadaan istrinya gawat. Ia mengharapkan peristiwa itu jangan pernah menerpa orang yang lain.
2. Meisya Rahayu
Masalah pasien BPJS yang tidak diterima rumah sakit juga dirasa keluarga bayi berumur 15 bulan. Sang bayi yang bernama Mesiya Rahayu itu wafat dunia sesudah empat rumah sakit di Kota Tangerang menampiknya.
Orang-tua Meisya, Undang Misrun (42) serta Kokom Komalasari (37) tinggal di satu kontrakan sempit di RT 02 RW 01, Kelurahan Neglasari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang. Misrun bekerja jadi sopir truk sampah di Dinas Kebersihan serta Pertamaman Kota Tangerang jadi Tenaga Harian Terlepas (THL).
Peristiwa memilukan itu bermula waktu Misrun dengan istri membawa Meisya ke klinik setempat. Dokter menanganginya dengan mengatakan sang bayi diserang diare. Sang dokter lantas merujuknya ke rumah sakit di Tangerang untuk selekasnya dirawat.
Pada akhirnya sang anak masuk di IGD rumah sakit di Tangerang. Dalam sistem perawatan, orang-tua menyorongkan BPJS. " Namun tidak di terima karna miliki saya BPJS Ketenagakerjaan. Pada akhirnya saya mendaftar jadi pasien umum dengan membayar Rp 370 ribu, ” kata Misrun, Senin 5 September 2016.
Pihak rumah sakit juga mengatasi sang bayi dengan beragam aksi. Dari hasil kontrol dokter, Meisya didiagnosa infeksi paru-paru. Lalu rumah sakit memberi referensi dengan argumen tidak mempunyai alat untuk mengatasi sang bayi.
Tanpa ada info, Misrun mencari rumah sakit referensi. Dia berkeliling-keliling dengan mengendarai sepeda motor. Ada empat rumah sakit yang disambangi, semuanya rumah sakit itu menampiknya dengan argumen kamar penuh.
" Mereka tidak bertanya KTP saya maupun keadaan anak saya. Saya tidak tahu mengapa, ” tutur dia sedih.
Karena sangat lama memperoleh pertolongan, Meisya juga gawat. Napasnya jadi sesak sampai pada akhirnya pada Minggu jam 23. 30 WIB, nyawanya tidak tertolong. Bayi mungil itu wafat dunia.
3. Debora
Peristiwa terbaru dihadapi oleh keluarga bayi Debora. Sang bayi wafat dunia karna tidak dikerjakan pas saat oleh RS Partner Keluarga Kalideres karna terbentur cost.
Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyebutkan, ada sangkaan kelalaian dari pihak Tempat tinggal Sakit Partner Keluarga Kalideres. Semestinya rumah sakit dari pertama bertanya pihak keluarga korban, siapa yang juga akan membiayai perawatan bayi Debora.
" Ini kekeliruannya dari pertama. Semestinya pihak rumah sakit ajukan pertanyaan, pembayarannya dikerjakan oleh siapa. Nyatanya dia miliki BPJS, namun tidak terinformasi dari pertama, " tutur Kepala Dinkes DKI Jakarta Koesmedi Priharto dalam di kantor Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Senin (11/9/2017).
Bila bayi Debora memakai BPJS, Koesmedi meneruskan, pendanaan pembiayaan untuk perlakuan kritis darurat sampai stabil, dapat ditagihkan ke BPJS. " Nah, RS Partner Keluarga telah sempat menggerakkan sesuai sama itu, " tutur dia.
Sayangnya, kata Koesmedi, ada kekeliruan info dari pertama masalah pembiayaan bayi Debora, hingga terlambat perlakuan sampai pada akhirnya bayi itu wafat.
" Yang barusan saya katakan, ini salah info, tidak terdaftar sesungguhnya siapa yang mendata. Ini dari info yang kami terima dari rumah sakit. Kelak kita cobalah bertanya ke keluarga, benarkah sesuai sama itu, " tutur dia.
Menurut Koesmedi, pihak RS Partner Keluarga tidak paham bila bayi Debora yaitu pasien BPJS. Baru di ketahui sesudah sebagian jam sang bayi masuk IGD.
" Prasyarat untuk masuk ruangan PICU, awalannya RS Partner Keluarga tidak tahu bila ini (Debora) pasien BPJS. Baru di ketahui kalau ini pasien BPJS sekitaran jam enam pagi, " tutur dia.
Mengenai, dokter yang mengatasi bayi Debora di IGD merekomendasikan supaya bayi Debora masuk PICU. Cost perawatan PICU Rp 19, 8 juta dengan uang muka 50 %. Sesaat, keluarga cuma mempunyai uang Rp 5 juta.
" Keluarga pasien masih tetap miliki uang Rp 5 juta, di sampaikan, untuk masuk PICU mesti 50 % dari cost yang di sampaikan pihak RS, " Koesmedi menyatakan. bpjs online
Sesaat, Direktur Partner Keluarga Fransiska menyebutkan, sekarang ini ada 12 cabang RS Partner Keluarga. Tetapi, baru satu cabang yang telah bekerja sama juga dengan BPJS.
" Kami sekarang ini tengah menuju sistem bekerja sama juga dengan BPJS. Kelak gagasannya berurutan, " tutur dia pada saat yang sama.
Untuk pasien yang memerlukan perawatan darurat, Fransiska menyebutkan, RS Partner Keluarga tidak sempat menampiknya, termasuk juga bayi Debora.
" Untuk masalah emergency kami tidak sempat menampik pasien dari tempat mana juga. Untuk service emergency, kalau tidak sekian peristiwanya. Kalau saya telah memberikan laporan, serta itu wewenang beliau (Kadinkes) untuk memberi pernyataan, " Fransiska menandaskan. bpjs online